Sore itu matahari telah setengah tenggelam di ufuk barat. Bersembunyi di punggung pengunungan Xiao San dan menoreh langit biru menjadi oranye. Seberkas cahaya lembut masih tersisa untuk desa Huangshan, dan memantul kembali dari permukaan sungai Huangpu. Sebatang pohon cherry tua tumbuh kokoh di atas bukit kecil di seberang sungai itu.
Mei dan Lao sudah berjam-jam duduk disana. Mereka tidak melakukan apa-apa, hanya duduk menunggu para biarawan pulang dari sekolah tempat mereka mengajar dan kembali ke gereja. Akhirnya terdengar lonceng sekolah berdentang keras beberapa kali dan telihat beberapa biarawan berjalan keluar dari gerbang sekolah menuju ke jalan setapak di samping sungai. Jubah hitam panjang para biarawan itu menyapu rerumputan di bawah kaki mereka. Salah seorang biarawan itu berhenti dan melihat ke atas bukit. Dengan kacamata bundar yang menempel dibawah matanya, dia menyeringai lebar.
"Ayo anak-anak, makan malam hampir siap. Akan ada doa sebelum makan, jadi cepatlah kumpulkan jeruk-jeruk itu" Biarawan itu bernama Bapa Joseph. Usianya telah menginjak 70 tahun ini namun badannya masih tegap dan jalannya masih mantap.
Satu-satunya sekolah di desa Huangshan adalah sekolah untuk tingkat dasar dan menengah. Terletak di bawah bukit pohon cherry tua. Setiap harinya sekolah itu dibagi ke dalam dua shift; pagi dan siang. Didirikan bertahun-tahun yang lalu oleh para misionaris Katolik yang juga mengajar disana sebagai sukarelawan. Merekalah para biarawan yang berasal dari dalam dan luar daratan Asia. Mereka tinggal di Gereja yang terletak di belakang bukit pohon cherry tua yang berdiri beberapa tahun lebih awal dari sekolah.
Beberapa tahun yang lalu gereja itu direnovasi dan sebuah gedung panti asuhan dibangun menyatu dengan gereja itu. Karena perang sipil tahun 1973 di Shanghai, banyak sekali penduduk kota yang mengungsi di pedesaan. Sebagian besar pengungsi adalah wanita dan anak-anak yang ditinggal perang oleh suami, ayah dan saudara laki-laki keluarga. Banyak anak yatim piatu yang tidak sanggup ditangani oleh pemerintah akibat meledaknya jumlah penduduk di dataran Cina sekitar awal 1950. Anak-anak yatim piatu yang tidak sanggup ditangani pemerintah kemudian dirawat oleh berbagai kaum agamawi. Mei dan Lao adalah dua anak yatim piatu yang telah diasuh oleh Biara Katolik desa Huangshan semenjak mereka bayi. Mereka berdua bersekolah pagi hari dan karena usia mereka sudah 15 dan 16 tahun dan tergolong remaja, saat siang hari mereka diwajibkan bekerja membantu para biarawati di kebun gereja.
"Bapa Joseph sudah memanggil kita. Ayo, Mei". Lao yang sudah siap dengan sekeranjang penuh berisi jeruk bergegas berdiri.
"Tunggu, Lao. Kau lupa menyebutkan janji yang harus kita ucapkan setiap hari di bawah pohon ini". Mei mengingatkan.
Lao tersenyum. "Baiklah".
Lalu mereka berbarengan mengucapkan janji itu. "Bunda Maria, Kristus Tuhan dan Pohon Cherry Tua, kami berjanji untuk tetap saling menjaga sampai kapanpun". Janji untuk saling menjaga itu sudah mereka ikrarkan semenjak mereka anak-anak sampai sekarang sudah sepuluh tahun yang lalu, namun setiap hariya selalu mereka ucapkan. Selesai mengucapkan janji itu mereka berlari menuruni bukit menyusul para biarawan di jalan setapak tadi.
Keesokan harinya, saat matahari baru akan berada di puncak tertingginya, debu mengepul di jalanan yang menghubungkan desa Huangshan dengan desa yang lain. Ternyata sebuah mobil dengan simbol salib di kedua pintunya yang mericuhkan debu-debu itu. Berjalan pelan seperti seorang puteri raja yang takut kakinya terantuk batu dan tidak berapa lama berhenti di samping gedung sekolah. Desa Huangshan sangat jarang mendapat kunjungan dari luar beberapa tahun terakhir sehingga kedatangan perwakilan Gereja dari kota hari itu menimbulkan tanda tanya bagi semua orang.
Seorang pria jangkung bersetelan rapih, tanpa jubah biarawan dengan janggut hitam dan topi tinggi turun dari mobil itu. Disambut dengan sebuah pelukan dari Bapa Joseph yang adalah kepala Sekolah sekaligus kepala Biara. Mereka lalu berjalan masuk menuju ruang kepala sekolah, melewati kelas-kelas, namun yang terlihat hanyalah puncak topi pria tadi dari jendela kelas yang teletak memang diatas dinding.
Setelah makan siang, para siswa diminta berkumpul di aula. Akan ada pertemuan dengan Tuan William, perwakilan duta besar Inggris. Di aula, setelah semua siswa berkumpul, pria jangkung tadi berjalan ke tengah panggung yang terletak di depan aula dan mulai bebicara. Suaranya yang keras dan stabil membuatnya tidak perlu menggunakan alat pengeras suara.
"Selamat siang, para pastor, para guru dan para siswa sekolah dasar dan menengah St. Agustinus desa Huangshan. Perkenalkan saya William Von Dominic. Saya sampai ke tengah-tengah saudara dan para siswa sekalian dengan suatu pesan dari kedutaan Inggris di Cina yang saya wakilkan. Seperti yang kita ketahui bersama, negara Cina sedang berada dalam suatu masa transisi, suatu masa pemulihan atas runtuhnya perekonomian yang disertai perang sipil beberapa tahun yang lalu. Dan saat ini masa pemulihan sedang berjalan dengan sangat baik, negara Cina sudah pulih seutuhnya dalam bidang perekonomian yang dapat dirasakan perubahannya di daerah kota, tentunya. Namun masih ada satu ancaman yang sampai saat ini dapat menghambat proses pemulihan negara ini. Jumlah penduduk yang meledak sejak tahun 1950 ternyata masih belum bisa ditanggulangi secara optimal. Oleh sebab itu, Cina bekerja sama dengan Inggris untuk melakukan suatu program imigrasi. Sasaran utama dari program ini adalah pemuda-pemudi yatim piatu yang berusia diatas 15 tahun dari seluruh daratan Cina. Program ini bukanlah paksaan, karena menyangkut hak asasi untuk hidup merdeka dan sebaliknya program ini dilakukan dengan sukarela dan sadar oleh mereka yang mau. Grafik mata pencaharian terbanyak di Cina adalah Nelayan dan Petani disamping pengangguran yang menempati posisi pertama. Negara kami, Inggris adalah suatu negara besar dengan banyak sekali sumber daya alam namun sangat disesalkan saat ini Sumber daya manusia yang dibutuhkan masih belum mencapai jumlah yang optimal. Oleh sebab itu kerja sama di buat antara kedua negara ini. Inggris tidak menjamin kemakmuran setiap orang yang mau ikut ke dalam program imigrasi ini, hanya Inggris bisa memastikan bahwa mereka akan mendapatkan pendidikan yang baik, kehidupan yang layak, dengan cara menyediakan lapangan pekerjaan yang membuka peluang mereka untuk menjadi orang yang lebih sukses dan lebih baik. Sekali lagi, pesan yang saya sampaikan ini dalah sebuah penawaran untuk memperbaiki kualitas hidup setiap anak muda yatim piatu di negara ini. Terima kasih." Demikian pria jangkung itu mengakhiri pesan yang dipercayakan padanya.
Sore itu, setelah selesai dengan urusan kebun dan memetik beberapa jeruk untuk makan malam. Seperti biasa, Mei dan Lao kembali menghabiskan waktu mereka di bawah pohon cherry tua.
Lao memulai percakapan. "Mei, apakah kamu pernah membayangkan seperti apakah Inggris itu?". Mei hanya menjawabnya dengan sebuah gelengan pelan. "Kau tahu, aku sedang memikirkan kata-kata tuan William tadi siang." Lao meneruskan. "Inggris tampak sangat menjanjikan sebuah kehidupan yang baik untuk kita, sedangkan Cina, mungkin kita hanya akan menjadi nelayan atau petani atau bahkan pengangguran. Hal ini mengganggu pikiranku, Mei".
Mei masih tak berkata apa-apa, dia hanya duduk dengan pandangan kosong. Sebenarnya dia tahu dan mengerti betul apa yang Lao rasakan. Dia telah begitu mengenal Lao. Sosok Lao yang begitu tertarik akan petualangan yang baru, pekerja keras, dan sangat tidak akan melepaskan semua kesempatan untuk hidup lebih baik, kalau ada. Sebenarnya Mei tidak mempermasalahkan kalau mereka harus meninggalkan desa itu dan ikut program imigrasi yang ditawarkan Tuan William, hanya saja dia tidak mungkin bisa ikut, usianya masih 15 tahun ini.
"Lao, kau benar. Aku mau sekali untuk mengikuti program itu, dan berangkat menyebrang benua ini bersama kamu, tapi usiaku baru menginjak 15 tahun ini." Mei berkata lirih. Dia menoleh, Lao hanya tertunduk tak berkata apa-apa. Sisa sore itu hanya dilewatkan dengan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
Lonceng sekolah berbunyi pukul 1 siang keesokan harinya. Selesai sekolah shift pagi. Mei bertemu dengan Lao yang tampak ceria seperti hari biasanya. Berbeda dengan Lao yang bingung di atas bukit kemarin sore.
"Kita harus cepat pulang, Mei. Pekerjaan rumah tentang puisi belum kita selesaikan sedangkan lusa sudah harus siap. Ayo!" Lao memang tampak seperti biasa, hal ini membuat Mei menjadi lebih tenang. Dia sendiri tidak mau menghadirkan pertanyaan atau apapun yang bisa membuat Lao mengingat akan Tuan William dan penawarannya. Dia bergegas duduk di sepeda yang akan dikayuh Lao menuju Gedung Panti. Di tengah jalan, Lao menghentikan spedanya. Mobil dengan simbol salib di kedua pintu itu sedang berjalan memotong jalanan berdebu didepan mereka. Tuan William yang kali ini terlihat memakai setelah putih berada di dalam mobil itu, tersenyum lembut ke arah mereka. Setelah sepeda disandarkan di belakang gedung panti, Mei dan Lao bergegas masuk ke dalam gedung. Lao tampak tetap ceria seperti biasa. Tidak ada yang mengganggu pikirannya saat ini. "Terima kasih, Bunda Maria." Mei berbisik dalam hatinya.
Siang itu mereka sedang duduk mengerjakan puisi di meja dapur tempat sister Caroline dan bapa Ignatius memasak makan malam untuk seluruh penghuni gereja dan panti.
"Aku ingin tahu, Lao, apakah kau ingin mendaftarkan dirimu ke program imigrasi itu?" Bapa Ignatius tiba-tiba bertanya.
"Aku... um... Aku rasa tidak, bapa Ignatius" Lao menjawab pertanyaan Bapa Ignatius dengan wajah serius. Yang disambut dengan senyum di wajah Sister Caroline.
"Mengapa tidak?" Tanya sister Caroline. Lao tampak berpikir sejenak, lalu dia memalingkan wajahnya menatap Mei yang sedari tadi pun memasang tampang serius menyimak percakapan itu. "Aku memang begitu menginginkannya, tapi aku rasa disinilah rumahku, bersama Mei dan keluargaku yang lain, bersama Bapa Joseph, Bapa Ignatius dan Anda, Sister." Lao lalu kembali menulis puisi-puisi yang akan dibacakan di depan kelas esok lusa.
Seminggu telah berlalu sejak kunjungan Tuan William dan desas-desus yang ramai diantara para siswa tampaknya sudah mereda. Hal ini terlihat pada makan malam kali ini para siswa tidak seramai malam-malam kemarin dalam membicarakan penawaran negara Inggris itu. Namun ada obrolan lain yang menjadi menu makan malam hari itu. Sekitar 30 anak dewasa telah mendaftarkan diri mereka dan bersedia merantau ke Inggris. Empat hari lagi, saat musim semi akan berakhir, akan ada bus yang menjemput mereka. Dan akan menjadi hari perpisahan yang berarti untuk desa Huangshan.
"Aku senang kau tidak memilih untuk ikut, Lao" Senyuman Mei tidak bisa disembunyikan dari wajah manisnya. "Awalnya aku sangat cemas dan gelisah karena aku sangat mengenalmu, Lao, dan aku tahu betapa besar keinginanmu untuk pergi. Tapi kau mengingat janji di bawah Pohon Cherry Tua kita. Terimakasih, Lao". Kedua mata Mei sedikit berkaca-kaca, namun tidak ada air mata yang mengalir membasahi pipinya.
"Mei, setahuku kau adalah gadis tegar, mengapa sekarang kau berkaca-kaca? Aku pernah berjanji padamu untuk menjagamu, kau pun berjanji untuk menjagaku, sampai kapanpun. Jadi bagaimana aku bisa meninggalkanmu, dan desa ini. Mei, kamu sudah seperti adikku sendiri, kita tumbuh bersama, tidak mungkin aku meninggalkanmu sendiri." Kata-kata Lao sangat menenangkan hati Mei. Dia percaya kepada pemuda ini, dia tahu kalau Lao bersungguh-sungguh. "Terimakasih, Lao. Aku memang gadis yang tegar." Mei bergumam lembut.
Pagi itu, udara masih sangat dingin diluar. Para siswa masih tidur ketika sebuah Bus tiba menjemput peserta imigrasi yang telah berkumpul di luar gedung. Bapa Joseph dan beberapa biarawan mendampingi mereka.
Dalam mimpi Mei malam itu, Lao sedang membacakan puisi yang telah ditulisnya di dapur waktu itu. Di bawah pohon Cherry tua, diatas bukit saat matahari kembali bersembunyi di punggung pegunungan barat Xiao San.
"Aku kokoh karenamu,
Aku mekar setiap kau meniupku dengan angin semimu,
Kuberikan pegabdianku,
Kujaga kecantikanmu.
Untuk selamanya akan tetap terjalin,
Sebait janji laksana akar-akarku
Menggenggam erat bumimu."
Deru bus di subuh yang sunyi ketika meninggalkan halaman gereja seperti lonceng gereja yang membangunkan Mei dari tidurnya. Dari jendelanya yang bahas oleh embun dia melihat cahaya lampu bus itu bergerak menjauh. Dia tersenyum karena Lao-nya tidak meninggalkannya. Lalu kembali tertidur.
Teriknya matahari awal musim panas di keesokan siangnya mengantar para siswa shift pagi kembali menuju rumah mereka masing-masing. Mei yang pada hari ini mendapat giliran kebersihan kelas terpaksa tinggal bersama tiga rekannya untuk memastikan kelas mereka dalam keadaan bersih dan siap ditempati oleh shift siang. Sejam berlalu, Mei telah selesai dengan tanggungjawabnya dan bersiap-siap bertemu Lao di samping sungai Huangpu untuk pulang bersamanya. Sesampainya di tepi sungai, Mei tidak melihat sosok Lao di sana, dimana ia biasanya menunggu. Saat itu matahari begitu terik, berbeda dengan hari biasanya, jadi mungkin Lao tidak tahan menunggu dan pulang lebih duluan. Sekalipun tampaknya tidak mungkin hal itu terjadi, Mei tetap berusaha berpikiran positif. "Kasian Lao, dia pasti kepanasan menunggu aku." Katanya sambil berjalan menyusuri jalan setapak di tepi sungai Huangpu sendirian. Dia dulu sering pulang pergi sekolah dengan berjalan kaki sebelum akhirnya Lao dibelikan sepeda oleh Bapa Joseph sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke 12. Sejak empat tahun yang lalu, Mei terbiasa pulang pergi sekolah dengan dibonceng sepeda Lao. Tapi hari ini dia harus berjalan kaki di bawah teriknya matahari awal musim panas. "Seandainya setiap musim panas sekolah boleh libur". Gumam Mei berulang-ulang.
"Wahh, akhirnya sampai juga." Gadis itu langsung bergegas menaiki tangga dan berjalan dalam koridor anak perempuan yang tidak bisa dimasuki oleh anak laki-laki. Kepalanya terasa berat dan badannya mendadak lemah. "Kau tidak apa-apa, Mei? Kau terlihat pucat." Tanya seorang anak perempuan yang bertemu dengannya di dalam koridor. "Aku baik-baik saja, Ping. Aku hanya kepanasan. Matahari begitu terik di luar sana." Jawab Mei lemah. "Oh, sukurlah! Aku pikir kamu sedih karena kejadian ini. Kami semua sebenarnya mengkhawatirkanmu. Ingatlah kapanpun kamu butuh teman, aku dan anak-anak yang lain siap menemanimu." Perkataan Ping membuat Mei bingung. Dia mulai gelisah namun tak mampu berkata apa-apa, dia takutkan apa yang dia pikirkan menjadi kenyataan namun dia berusaha menepis ketakutan itu karena sebuah kepercayaan. "Apa maksudmu, Ping? Kejadian apa?" Tanya Mei pelan. Raut wajah Ping tampak sangat terkejut. Gadis berpotongan rambut pendek itu segera memeluk Mei dan bertanya pelan di telinganya. "Lao, Mei... Dia telah pergi dengan rombongan imigrasi itu, tidak tahukah kamu?" Mei hanya merasakan pelukan Ping yang semakin erat dan kemudian semuanya menjadi gelap dan berputar-putar. "Apa? Lao? Tidak mungkin..." Gumamnya lemah lalu oleng dan jatuh kelantai mencederai siku Ping yang iktu terjatuh karena tidak sanggup menahan massa tubuh Mei yang mendadak pingsan tak sadarkan diri.
2o tahun telah berlalu sejak kejadian siang itu saat Mei tidak sadarkan diri.
"Tuan, ini visa saya." Lao berkata kepada seorang pria berseragam putih yang duduk di balik kotak kaca dengan cap di tangan kirinya dan setumpuk berkas di bawah tangan kanannya.
"Tuan Lao An Fa. Apa alasan Anda pergi ke daerah ini, tolong dijawab agar bisa saya jadikan lampiran dalam laporan saya." Lelaki berseragam tadi bertanya tanpa menarik pandangannya dari selembar kertas berwarna abu-abu dengan tulisan merah di atasnya dan banyak kotak putih di dalam kertas itu.
"Saya... Huangshan adalah tanah kelahiran saya. Saya harus mencapai Shanghai sebelum bisa ke Huangshan. Saya hanya ingin pulang." Kali ini pandangan pria berseragam tadi menatap tajam Lao dan tanpa banyak bicara segera mengetukkan alat cap dengan tinta hijau pada kerta abu-abu tadi. "Baiklah, Tuan Lao... Anda boleh... um.. Anda boleh pulang".
"Aku pulang, Huangshan, aku pulang, Mei." Lao bergumam dalam hati kecilnya. Dia segera mempersiapkan segala sesuatunya. Semua tabungan yang dikumpulkannya dari hasil kerja kerasnya selama 2o tahun. Kini ia berusia 36 tahun. Dia tidak mencari wanita di Inggris dan bahkan tidak berpikir untuk berkeluarga. Sesuai dengan janjinya pada Mei yang ia tuliskan di setiap surat yang ia kirimkan setiap bulan bahwa ia akan kembali dan memulai hidup baru bersama Mei. Kepulangannya ini pun sebenarnya sudah ia beritahukan melalui suratnya yang terakhir, dan dia berharap akan segera kembali ke Huangshan dan bertemu Mei dan menikahinya.
Bekerja sebagai anak buah kapal transportasi di Inggris selama bertahun-tahun membuatnya tidak gampang mabuk laut ketika harus untuk kedua kalinya menyebrangi samudera Hindia yang menjadi jalur pelayaran waktu itu antara Inggris dan Cina. Dalam waktu kurang dari 7 malam kapalnya berlabuh di pelabuhan Shanghai. Dan segera mendapatkan kendaraan yang dapat ia tumpangi menuju Huangshan. Gejolak hatinya semakin menggebu-gebu seiring dengan semakin banyaknya kilometer yang telah ia lewati untuk kembali ke Huangshan.
Pagi itu, ketika anak-anak sekolahan sedang ramai di sepanjang jalan setapak dan para gembala kambing domba sedang menuntun ternaknya menuju padang rumput di luar desa, Lao kembali menghirup udara Huangshan. Mobilnya diparkir disamping bangunan gereja tua yang sangat ia kenali dan yang ia tinggalikan 20 tahun lalu. Masih terlihat sama, warna abu batu dari dinding gereja seakan tidak pernah terkikis oleh tahun-tahun tanpanya. hanya saja ada sedikit perbedaan di sudut-sudut taman, beberapa pohon yang dulu tumbuh disitu sekarang digantikan oleh taman mawar putih dan terpagar rapih. Ia teringat akan sahabat lamanya si pohon cherry tua.
Kedua tangannya mendorong terbuka daun pintu gereja dan segera tercium olehnya aroma bakaran yang akrab di hidungnya. Sinagoga yang tetap sama, jendela warna warni yang indah, sederetan bangku panjang dari kayu oak, tidak berdebu, Bapa Carlos pasti merawatnya dengan baik. Di sisi kanan dinding gereja, di balik sebuah piano tua, terdapat sebuah pintu berukiran rumit dan dibaliknya adalah dapur tempat Bapa Ignatius dan Sister Caroline. Lao membuka perlahan pintu itu dan ditemuinya sesosok wanita gemuk bercelemek dengan penutup kepala yang segera dikenalina sebagai sister Caroline.
Setelah minum secangkir jus cranberry, mereka berdua memulai percakapan yang panjang. Cerita-cerita apa saja yang terlewatkan oleh Lao. Ternyata Bapa Joseph dan Bapa Ignatius telah meninggal beberapa tahun lalu dan sister Caroline yang bertugas di dapur sendirian. Dia tidak membutuhkan tenaga bantuan karena sekarang gereja telah jauh lebih sepi. Sehari-hari dia hanya akan memasak untuk para biarawan dan biarawati, karena sudah tidak ada anak yatim piatu yang bisa dimasaki makan malam lagi. Hal itu dia terima sebagai sebuah sukacita. "Baguslah kalau tidak ada lagi anak-anak yang harus hidup tanpa orang tua. Tapi kalau ada seorang saja, dia akan menjadi kebahagiaan bagi wanita tua ini." Gumam sister Caroline tua sambil tertawa tulus.
"Sister... Mei, apa kabarnya? Aku belum bertemu dia." daritadi Lao sudah ingin menanyakan pertanyaan itu. Seketika tawa tulus yang tadi masih melekat di wajah wanita itu pudar diganti dengan wajah penyesalan. Hal itu membuat Lao bertanya-tanya. "Ada apa sister? Mei baik-baik saja, kan? Dimana dia? Surat-surat dariku... Apakah dia menerimanya? Sister?!" Sister Caroline seperti melihat kembali ke 20 tahun lalu, ke masa-masa itu.
"Anakku, Lao... Sejak hari itu Mei berubah menjadi seseorang yang berbeda. Cahaya hidupya seperti terenggut darinya. Hidupnya kosong. Dia tidak makan dan minum selama berhari-hari sampai terpaksa dia harus di rawat di rumah sakit. Dia hanya bisa menangis. Kami hanya bisa berdoa dan menjaganya semampu kami. Dia tidak bebicara satu patah katapun, dia kadang tidak tidur. Seperti patung selama berbulan-bulan. Kadang dia terbangun dari mimpinya dan menangis menjadi-jadi. Namun untunglah, anakku, Tuhan masih mengasihi dia. Setahun penuh Mei seperti mayat hidup namun di pertengahan tahun berikutnya kondisinya membaik. Dia mulai bisa merespon jika dipanggil. Berat badannya berangsur-angsur naik. Sampai dia kembali bisa sehat total. Aku ingat, anakku, surat yang kau titipkan padanya, apa yang kau tulis disana? Setelah tiga tahun, Mei sembuh total dan dia mendaftarkan dirinya sebagai peserta program imigrasi ke Inggris. Kami semua tidak pernah tahu apa alasan dia melakukan hal itu, kami berpikir hal itu ia lakukan karena surat yang kau titipkan padanyadi hari kau meninggalkan Huangshan." Air mata berderai di wajah wanita tua itu.
"Sister, tapi setiap bulan aku selalu mengirimkan sepucuk surat untuknya. Apakah dia tidak membacanya?" Air mata pun mulai membasahi wajahnya.
"Dia tidak pernah membacanya. Hanya satu surat yang ia baca. Surat pertama yang kau titipkan itu. Surat-surat yang lainnya tidak sempat ia baca karena kondisinya yang buruk, dan ketika dia pulih, dia tidak mau membuka surat-surat itu. Aku yakin dia menyimpannya di suatu tempat. Dan ketika dia pergi dari Huangshan, surat-suratmu aku yang menyimpannya. Sebentar aku ambilkan." Sister Caroline lalu beranjak dan segera kembali membawa setumpuk surat dalam amplop yang memudar warnanya. Air matanya masih deras mengalir. Sementara Lao menangis terisak-isak menatap tumpukan surat yang tidak pernah terbaca itu.
Dengan hati yang berat dan air mata yang masih terus mengalir, Lao segera beranjak dan meninggalkan sister Caroline sendirian di dapur itu. Dia berlari keluar dari gereja menuju bukit tempat pohon Cherry Tua itu tumbuh. Sesampainya disitu dia terus menangis dan mengais di batang tubuh pohon tua itu sampai akhirnya dia tertidur.
Tetesan hujan yang kemudian menjadi deras membangunkan Lao dari tidur nya. Air mata yang tadi mengering dibasahi lagi oleh hujan. Isak tangisnya kembali pacah dalam hujan mengenang Mei. Malam itu hujan turun deras sekali, Lao menghangatkan tubuhnya di perapian gereja ditemani Sister Caroline dan bapa Carlos. Kedua biarawan itu banyak memberikan nasihat yang menguatkan hatinya. Seminggu penuh Lao habiskan di desa Huangshan, bersama pohon cherry tua dan merelakan Mei yang mungkin takkan pernah ia temui lagi.
Awal minggu berikutnya Lao pamitan dengan seluruh keluarganya di Gereja dan kembali ke Inggris. Perjalanan yang sama ia tempuh. Meskipun begitu berat untuk ia jalani, namun ia tidak akan lari dari kenyataan. Ia tidak berharap akan bertemu Mei di negara sebesar Inggris. Namun cukup buatnya jika Mei tinggal di dalam hatinya saja. Sebenarnya dia masih mengingat dengan jelas setiap kata, setiap titik dan koma dari surat yang ia tulis kepada Mei di malam dia berencana untuk meninggalkan Huangshan.
Kakinya kembali memijak Inggris. Kata-kata di surat itu seperti terngiang kembali di dalam kepalanya... "Mei..."
Inggris sore itu sedang gerimis namun kerumunan orang di pelabuhan seolah-olah tidak mau mengalah. Ada persemian kapal baru ternyata. "Maafkan aku tidak membicarakan hal ini denganmu sebelumnya..."
"janji kita, untuk saling menjaga, aku tetap mengingatnya dan tidak akan aku ingkari." Sebuah kapal berwarna putih sedang berlabuh di tepi pelabuhan. Sangat menarik perhatian.
Aroma cat kapal yang masih basah tercium dengan begitu jelas. "Namun aku ingin mengejar cita-cita. Sebuah kehidupan yang layak. Bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk Mei juga." Pedagang-pedagang kaki lima yang ikut menyusup ke dalam kerumunan tampak lelah dan tergeser oleh sekelompok orang-orang elit yang berada di sekitar acara peresmian kapal baru itu.
Lao berhenti sejenak dan menyalakan rokok. Jaket yang dikenakannya di eratkan ke badannya. Gerimis dan angin pelabuhan Inggris membuyarkan sisa-sisa angin hangat Huangshan yang mungkin masih terselip di rambut hitamnya. "Aku mengerti kalau kamu kecewa, tapi dibalik semua perasaan kecewamu, aku sangat meminta pengertianmu, Mei. Aku akan bekerja banting tulang untuk mengumpulkan uang demi masa depan kita berdua."
"Aku hanya memintamu untuk menungguku,"
Sebuah mobil berhenti tidak jauh darinya, makin mendesak kerumunan dan menggeser para pedagang makin ke tepi. Semakin banyak orang elit yang berdatangan. "sekalipun butuh waktu yang lama. Tapi aku pasti akan kembali ke Huangshan, hanya untukmu. "
Dari mobil itu keluar seorang pria yang berbadan tegap dan bersetelan rapih. Pria yang tenyata adalah seorang berperawakan Asia itu segera disambut oleh tepuk tangan dan sorak gemuruh dari kaum elit yang sudah berkumpul daritadi di bawah langit gerimis.
Lao tidak perduli dengan acara peresmian kapal itu. Meskipun yang mempunyai kapal mewah itu adalah seorang dari negerinya, isi kepalanya masih terisi oleh sesuatu yang lain, surat pertamanya masih terngiang dengan begitu jelas.
"Aku akan mengirimkan sepucuk surat setiap bulan untukmu. Supaya ketika kau kesepian dan merindukanku, kau bisa membacanya dan sedikit terhibur."
Pintu mobil di sisi yang lain terbuka, kali ini seorang wanita bertopi bundar, sang isteri yang keluar dan seperti suaminya, disambut oleh gemuruh tepuk tangan dan sorakan! Gerimis mulai perlahan-lahan berhenti memberi kesempatan untuk sinar matahari sore yang oranye menyapu badan kapal putih itu. OLD CHERRY. Itulah nama kapal itu.
"Tunggulah aku,"
Keuda suami isteri itu kemudian naik ke tangga kapal dan memulai berpidato.
"aku akan kembali untukmu."
Rokok yang dihisap Lao terjatuh ketika cahaya matahari oranye itu menerpa wajah sang Isteri. Mei berdiri disana, tersenyum lebar. Disamping suaminya.
Air mata mengalir membasahi pipi Lao. tak ada yang bisa ia katakan.
"Aku mencintaimu, Mei."